Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Berbuat Baik Tak Pernah Menyesal

Agar dapat mengunjungi situs ini, harap matikan fitur Adblock saudara, ya!

img

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah Tiba-Tiba Dompet Berisi Duit

/
/
4539 Views

Kisah nyata
Soal keajaiban sedekah nampaknya kita sudah terlalu sering mendengar, apalagi zaman now adalah zaman informasi dan komunikasi dimana dakwah sangat mudah diakses. Meski demikian, masih banyak orang-orang yang meragukan kejaiban sedekah. Terlebih adalah mereka yang memang belum pernah mengalami kejaiban tersebut.

Pada tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang keajaiban sedekah yang luar biasa. Kejaiban itu ada dan dapat diciptakan oleh siapa pun yang menginginkannya. Memang tidak mudah, tetapi tidak mustahil. Tanpa dibumbui amalan-amalan tertentu alias kudu ini kudu itu, tetapi langsung praktis. Saya akan berikan cerita secara naratif berikut ini.

Dulu, sewaktu kuliah semester dua saya pernah menjadi korban penipuan. Saat itu ada seseorang yang menelepon saya, kemudian karena suaranya mirip dengan teman saya –Akif namanya- akhirnya pembicaraan menjadi akrab. Seolah ia memang nama yang saya maksud sebagaimana tebakan saya ketika mengawali pembicaran.

kisah keajaiban sedekah
kisah nyata keajaiban sedekah

Dalam pembicaraan itu, meski nomor tersebut tidak ada namanya di kontak saya, saya menganggapnya si Akif karena memang mirip. Bahkan ketika dia menyebutkan memiliki masalah di kantor polisi akibat motor yang kendarainya menabrak orang, saya pun percaya. Ketika ia meminta tolong agar dipinjami uang 500 ribu, saya juga percaya.

Sebagai teman, saya berupaya membantunya. Meski saat itu saya tidak memiliki uang, saya berusaha mencari pinjaman kepada teman-teman saya yang lain. Saking kasiannya, saya bahkan rela bolos kuliah demi mencari pinjaman uang 500 ribu. Tujuannya agar teman saya yang berada di kantor polisi tersebut bebas.

Singkat cerita, saya pun mentransfer uang ke rekening yang dia berikan. Namun naas, setelah saya telpon kembali ternyata ia berkata bahwa uang 500 ribu itu kurang. Sebab, korban kecelakaan meminta lagi untuk biaya pengobatan. Dari situ saya mulai curiga, jangan-jangan yang mengaku-ngaku teman saya itu bukan si Akif.

Akhirnya saya telpon nomor Akif yang sudah ada kontaknya di hp saya. Ketika saya tanya kabarnya dan bagaimana soal ceritanya di kepolisian, dia hanya bingung. Sebab, katanya dia tidak sedang di kantor polisi dan tidak mengalami kecelakaan. Dia sedang belajar di kampus.

Nah, saat itu saya baru nyadar bahwa orang yang berkomunikasi dengan saya adalah penipu. Saya hanya bisa menelan ludah, lalu saya kirim pesan kepadanya “semoga Allah mengampunimu”.

Setelah penipuan itu, uang saya tinggal 100 ribu rupiah. Bagi mahasiswa pertengahan bulan, uang segitu sudah sangat berada di zona merah. Saya bingung bukan kepalang. Tetapi saya yakin Allah akan menolong saya, Allah akan memberikan kejutan untuk saya. Demikian, ini cerita pertama.
——

kisah nyata keajaiban sedekah
keajaiban sedekah

Kemudian suatu waktu ada ceramah Ustadz Yusuf Mansur di masjid kampus UIN Jakarta. Saya ikut dengan antusias. Sebagaimana ciri khasnya, beliau menyampaikan tentang sedekah dan kejaiabannya. Mantap, luar biasa isinya. Tidak hanya itu, bahkan Ustadz Yusuf menggelar sedekah berjamaah di akhir tusiahnya.

Baca : Cara Ampuh Menebak Kecantikan Wanita Bercadar

Ketika itu jamaah berbondong-bondong bersedekah. Adapun saya, karena dirundung duka yang cukup berat, akhirnya tanpa banyak mikir saya pun mengambil uang 50 ribu didompet saya untuk disedekahkan. Tadinya mau 100 ribu, tapi masih khawatir sore nanti susah makan. Hehe

Beberapa hari kemudian saya benar-benar tidak memiliki uang sama sekali. Ludes. Pagi itu saya bingung mau makan apa, dimana, dengan siapa dan makan menu apa. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba ada seorang teman yang mengajak saya untuk mengikuti sebuah seminar, dan ia akan mengongkosi perjalanannya. Dalam hati saya, ini adalah kesempatan barangkali ada nasi boxnya. Hehe, maklum mahasiswa.

Tidak berbeda dengan Tausiyah Ustadz Yusuf Mansur, ternyata pemateri seminar juga menggelar sedekah bersama di akhir presentasinya. Saat itu teman saya yang bernama Agus mengambil semua uang didompetnya kemudian maju ke depan untuk disedekahkan. Luar biasa. Benar-benar sampe kosong tuh dompet.

tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah
kisah nyata keajaiban sedekah

Dikira saya punya simpanan uang, teman saya berkata “Pak Andi” demikian panggilan becanda kami “uang saya sudah disedekahkan semua, pulangnya Pak Andi ongkosin saya ya”. Lah, saya hanya melongo saja sebab saya tidak memiliki uang sepeserpun. Sungguh. “Saya nggak ada uang sama sekali Pak Agus”. Dia pun hanya mengerutkan dahi keheranan.

Kami berdua bingung, dalam keadaan perut kosong –sebab peserta tidak mendapatkan nasi box- kami berupaya mencari tumpangan kendaraan. Tetapi kami tidak menemukan orang yang sejurusan ke daerah kampus. Bahkan satu persatu peserta seminar pulang, kami masih termenung dipinggiran gerbang. Hingga akhirnya, semua peserta benar-benar sudah pergi ke tempat masing-masing.

Kami terlunta-lunta bagaikan anak jalanan, meski perut kosong akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo. Sembari berjalan, kami berharap agar dipertemukan dengan sesuatu yang darinya kami mendapat kebaikan. Semakin jauh kami melangkah semakin lelah betis dan semakin haus tenggorokan.

Di suatu keramaian, kami bersepakat untuk ngamen. Walau suara pas-pasan, dalam keadaan seperti ini nyali kami harus berani. “Pak Agus, kita ngamen” kata saya. Ia menjawab “Siap Pak Andi”. Bismillah, kami mulai mendekat ke keramaian Ibu dan anak-anak. Jarak kami semakin dekat dan jantung semakin bergetar kencang. Antara maju dan mundur.

kisah nyata keajaiban sedekah
kisah nyata keajaiban sedekah

Setelah semakin dekat dan nyaris mau buka suara, akhirnya saya menarik tas Pak Agus agar berbalik arah. Nyali saya benar-benar ciut. “sudahlah Pak Agus, nggak usah jadi. Saya malu” Pak Agus tertawa terbahak-bahak seolah keheranan. Padahal saya juga tahu kalau dia juga ciut nyalinya. Bahkan mungkin dia berterima kasih ke saya yang telah menarik tasnya untuk mundur.

Kami berjalan kembali menyusuri trotoar. Terus melangkah di bawah terik matahari yang panas. Kadang kami becanda dengan pertanyaan tertentu terkait masa depan. Misalnya nanti akan beli mobil apa, buka usaha apa, sekolah apa, rumah sakit apa, berapa banyak yang akan mendapat manfaat dari kita, dan seterusnya. Lumayan juga gumam saya, dapat melupakan lapar.

Lalu karena kami sudah sangat lapar, akhirnya saya melakukan suatu tindakan yang nyaris tidak masuk akal. Saya katakan kepada Pak Agus “Dengarkan dan saksikan Pak, ini dompet saya, isinya kosong –sambil menunjukan isinya- tetapi saya akan berusaha agar dompet ini jadi ada duitnya”. Kata-kata saya cukup meyakinkan. Dan teman saya bertanya caranya.

“Silahkan Pak, saya percaya. Gimana caranya” tanyanya cukup antusias. Saat itu, saya akan membuka dompet saya setiap tujuh langkah sebanyak tujuh kali percobaan. Saya memulai dari tujuh langkah pertama. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. lalu di langkah ketujuh kami berhenti. Perlahan-lahan saya keluarkan dompet lalu baca bismillah dan saya lihat isinya.

“Gimana Pak, ada tidak?” tanya Pak Agus. Saya hanya menggelengkan kepala “Belum Pak, ayo kita melangkah lagi”. Kami melangkah untuk tujuh langkah kedua. Kami hitung dengan apik sebagaimana langkah sebelumnya. Dilangkah ketujuh saya buka, ternyata belum ada. Saya coba lagi ketiga kalinya, juga belum ada. Terus coba lagi hingga tujuh langkah terakhir.

Pada saat itu saya katakan kepada teman saya “Pak, ini langkah terakhir. Saya yakin Allah akan menolong, kita sedang susah. Saya yakin, Allah menolong hambanya. Bismillah Pak. Bagi Allah sangat mudah. Hanya kun,,,,maka fayakun”. Motivasi saya yang menggebu membuat teman saya tersenyum “Ayo Pak Andi, kita coba lagi. Saya juga yakin ada”.

Bismillah, saya mulai menghitung ayunan langkah pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Saat itu kami berhenti. Berdoa kepada Allah. Saya ambil dompet perlahan-lahan, saya pejamkan mata saya. Saya meminta agar Pak Agus yang melihatnya. Bismillah “Pak, tolong lihat dompetnya dalam hitungan tiga” pinta saya. “Siap” jawabnya.

kisah nyata keajaiban sedekah
kisah nyata keajaiban sedekah

“Satu…dua….tiga, lihat Pak ada tidak”. Pak Agus tidak menjawab. Saya buka mata, ternyata pak agus hanya garuk-garuk kepala. “Tidak ada Pak”. Haha….kami tertawa terbahak-bahak. Terkesan lucu dan konyol. Tapi saat itu saya tetap berkeyakinan bahwa Allah akan menolong. Cuma saya tidak tahu, Allah akan menolong dengan cara apa.

Karena suasana sangat lelah, kami pun istirahat di pinggiran trotoar jalan. Kami duduk sembari menikmati hembusan angina sepoy-sepoy yang menerjang keringat tubuh. Memang sejuk tetapi perut tetap berontak. Saat itu saya buka kembali dompet, juga tidak ada uang. Coba-coba buka tas barangkali ada uang terselip ternyata tidak ada juga. Huh, lelah banget.

Sambil iseng-iseng lihatin kartu mahasiswa di dompet, tangan saya menyasar ke kartu ATM yang saldonya Cuma 60 ribu rupiah. Tentu saldo segitu tak bisa ditarik. Tetapi aneh, ketika kami duduk ternyata di belakang kami ada mesin ATM. Nah, barangkali ini dia jawabannya. Saat tersadar ada ATM, saya langsung ajak Pak Agus menuju mesin tersebut.

“Pak Agus, ayo ke ATM. Kita cek nih, barangkali ada duitnya” pak Agus manut saja “ayo” jawabnya. Sebetulnya saya sudah tahu saldo ATM, sebab sudah saya cek sebelum berangkat. Tetapi namanya juga ikhtiar, barangkali ada keajaiban. Akhirnya saya masuk ke ruang ATM yang AC nya cukup ampu membuat tubuh jadi adem. Bismillah.

Saya masukan kartu ATM, saya ketik PIN masuk, pilih Bahasa Indonesia, lalu pilih Cek Saldo. Jreeeeng, walhasil apakah ada uang yang bisa ditarik? Luar biasaaah, tak diduga, ternyata ada saldo sebesara 1,2 Juta. Saya kucek mata, antara pecaya dan tidak. Saya tanya teman saya “ini berapa saldonya” teman saya bilang satu juta dua ratus. Luar biasah, saya tidak tahu dari mana tuh duit.

kisah nyata keajaiban sedekah
kisah nyata keajaiban sedekah

Tanpa banyak mikir, saya tarik sebagian uangnya. Lalu kami segera cari tempat makan agar perut berhenti berontak. Alhamdulillah saya panjatkan puja puji syukur untuk Allah semata. Ini adalah keajaiban sedekah sekaligus hiburan selepas terjadi penipuan. Akhirnya kami pun makan dengan menu yang enak dan pulang ke kostan dengan tenang. Alhamdulillah.

Meski demikian, otak saya masih bertanya-bertanya siapa gerangan yang mentransfer uang. Orang tua tidak mungkin, sebab masih pertengahan bulan. Terlebih lagi orang tua tidak pernah kirim uang lebih dari 700 ribu per bulannya. Belakangan saya baru tahu, ternyata uang tersebut adalah hadiah perlombaan sewaktu sekolah Aliyah. Saat itu saya ikut lomba LCC dan juara 1, tetapi belum diberi hadiah. Hanya mengisi biodata, lengkap dengan nomor rekening.

Mungkin anda berkata, “lah kalau begitu namanya bukan keajaiban, kan memang hak kita hasil lomba” boleh saja berkata begitu. Tetapi bagi saya bukan wajar atau tidak wajarnya tetapi soal waktunya dimana saat kita sangat membutuhkan, tiba-tiba Allah berikan keajaiban. Itulah kejaiban sedekah. Kejaiban itu ada dan diciptakan oleh siapa pun yang menginginkannya. Lalu Allah benar-benar memberikannya.

Demikian, semoga bermanfaat.

Baca Juga:

Metode Mudah Belajar Bahasa Arab Bagi Pemula

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This div height required for enabling the sticky sidebar