Malam Lailatul Qadar : Arti, Waktu, Tanda-Tanda, Keutamaan dan Hikmah Dirahasiakannya

Malam Lailatul Qadar – Setiap memasuki bulan suci Ramadhan kita senantiasa mendengar kata “Malam Lailatul Qadar” di hampir setiap acara keramadhanan. Berbagai penjelasan para kiai, ustadz dan para penceramah pun nampaknya sudah memadai sehingga kita dapat memahami apa itu Lailatul Qadar.

Bahkan terkait arti, keutamaan, waktu dan hikmahnya pun barangkali sudah sering disampaikan baik di acara kultum taraweh, khutbah jum’at, pengajian subuh, dan kajian-kajian lainnya yang diadakan di bulan Suci Ramadhan.

Namun sebagai referensi tertulis, kami ingin mengulas kembali terkait malam yang agung itu. Melalui tulisan ini semoga dapat menambah refensi pembaca sehingga bisa memotivasi untuk meningkatkan amal shalih selama bulan suci Ramadhan. Terlebih, amalam di malam hari yang salah satu malamnya ada malam Lailatul Qadar.

Arti dan Sebab Penamaan Lailatul Qadar

Secara bahasa kata Lailatul Qadar terdiri dari dua kata yaitu Lailah yang berarti malam dan Qadar yang berarti keagungan, penentuan, dan keputusan.

Adapun sebab penamaan Lailatul Qadar terdapat perbedaan di kalangan ulama. Pertama, dinamai Lailatul Qadar karena Allah menentukan rezeki dan ajal manusia serta seluruh kejadian alam,

Kadua karena malam tersebut memiliki keagungan, ketiga karena bobot pahala amalan di malan tersebut memiliki nilai agung yang berbeda dengan amalan di malam lainnya. (Imam Waliyuddin bin al-Hafidz al-Iraqi, Fadhail wa ‘Alâmât Lailah al-Qadr. Hlm 26)

Waktu Lailatul Qadar

Terdapat perbedaan di kalangan ulama terkait kapan malam lailatul qadar itu. Ada yang mengatakan awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan atau akhir Ramadhan.

Ada juga pendapat yang langsung menunjuk tanggal tertentu seperti tanggal-tanggal ganjil bahkan ada juga yang menyebutkan lebih spesifik lagi seperti tanggal 27 dan lain sebagainya.

Dari berbagai pendapat tersebut yang paling kuat adalah akhir bulan Ramadhan atau lebih tepatnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan terjadi pada malam-malam ganjil. Dalam Hadits al-Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda :

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان (متفق عليه)

Artinya : “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh terkahir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Malam ganjil dari sepuluh terakhir tersebut, ada juga pendapat yang mengkerucutkan lagi menjadi malam ke 27 sebagaimana hadits riwayat Ubay bin Ka’ab.

وعن أُبَيِّ بن كعب – رضي الله عنه – قال: “والله إنِّي لأَعلم أيُّ ليلةٍ هي؛ هي الليلة التي أمَرَنا رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم – بقيامها، هي ليلةُ سبع وعشرون”؛ (رواه مسلم (

Artinya : “Dari Ubay bin Ka’ab RA berkata : Demi Allah sesungguhnya aku mengetahui waktu lailatul qadar yang mana Rasulullah memerintahkan kami untuk melaksanakan ibadah di dalamnya, yaitu malam kedua puluh tujuh” (HR. Muslim no 762)

Meski demikian apakah Lailatul Qadar selalu terjadi di malam ke 27? Pendapat yang paling kuat adalah bahwasanya Lailatul Qadar selalu berpindah-pindah setiap tahun.

Itu berarti Lailatul Qadar tidak terjadi di tanggal tertentu secara permanen. Hal ini dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar al-Asqolani dalam kitab Fathul Bâriy hal juz 4 hal 260.

Hanya saja, meskipun berpindah-pindah, tetapi hanya berada di sekitar 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana dalam hadits di atas.

Tanda – Tanda Lailatul Qadar

Meski sedemikian rahasiannya Lailatul Qadar, tetapi ada beberapa tanda yang bisa kita indra sehingga kita dapat menduga kuat kehadirannya. Tanda-tanda tersebut antara lain sebagai berikut :

1] sinar matahari di pagi hari tidak memijar sehingga matahari dapat dilihat. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw dalam Shahih Muslim :

أنَّ النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم – أخبر أنَّ مِن علاماتها: أن الشمس تطلع صبيحتَها لا شُعاع لها (رواه مسلم)

Artinya : “Sesungguhnya Nabi memberikan berita bahwa tanda Lailatul Qadar adalah matahri terbit di pagi hari tanpa sinar yang memijar.(HR. Muslim)

2] Malam tersebut penuh dengan ketenangan dimana suasanya tidak panas/gerah, tidak pula dingin. Sementara pada pagi harinya, sinar matahari tidak menyengat. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw sebagai berikut :

عن ابن عباس رضي الله عنه أنَّ النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم – قال: ليلة القدر ليلةٌ طَلْقة، لا حارَّة ولا باردة، تصبح الشمس يومها حمراءَ ضعيفة (رواه الطيالسي)

Artinya : “Nabi Saw bersabda, lailatul qadar adalah malam yang tenang, tidak panas dan juga tidak dingin. Sementara pada paginya, sinar matahari tidak menyengat.” (HR al-Thoyalisi dalam munadnya juz 1 hal 201)

3] Malam tersebut seperti suasana subuh. Maksudnya penuh dengan ketenangan dan malam itu tidak ada pelemparan dengan bintang (meteor). Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw :

أن النبي – صلَّى الله عليه وسلَّم – قال: ليلة القدر ليلة بَلْجة – مضيئة – لا حارَّة ولا باردة، لا يُرمَى فيها بِنَجم

Artinya : “Rasulullah Saw bersabda, lailatul qadar adalah malam yang tenang, tidak panas dan tidak dingin. Pada malam itu, tidak ada yang dilempar dengan bintang. “(HR. Tabrani)

Masih ada beberapa lagi tanda-tanda Lailatul Qadar seperti lezatnya beribadah pada malam itu, bahkan ada juga orang-orang yang diizinkan Allah untuk memimpikannya sebagaimanya yang pernah terjadi pada sahabat Rasulullah Saw.

Keutamaan Lailatul Qadar

Sebagaimana namanya, tentu saja malam ini memiliki sejumlah keutamaan. Yang paling gamblang, adalah keutaman yang ditunjuk langsung oleh surat al-Qadr. Allah Swt berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) Salaam sampai terbit fajar”. (QS. Al Qadr [97] : 1-5).

Untuk lebih detailnya kami merinci keutamaan-keutamaan itu sebagai berikut :

  1. Pada malam tersebut Allah menurunkan al-Quran secara menyeluruh ke langit dunia. Artinya, al-Quran diturunkan dua tahap, yaitu dari Allah ke langit dunia secara serentak dan tahap kedua dari langit dunia ke Rasulullah oleh malaikat Jibril secara berangsur-angsur.
  2. Lailatul Qadar adalam malam yang lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
  3. Para malaikat turun untuk menebarkan rahmat dan keberkahan.
  4. Pada malam itu penuh dengan keselamatan hingga fajar menjelang.
  5. Pada malam itu juga berbagai urusan telah ditentukan oleh Allah Swt.

Mengingat begitu besarkan keutamaan malam Lailatul Qadar sudah semestinya kita berlomba-lomba untuk senantisa menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan keimanan kepada Allah Swt sehingga kita dipertemukan dengan malam tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah Rabb Semesta Alam.

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar

Meski ada sejumlah pendapat yang mengacu pada hadits nabi saw akan waktu lailatul qadar, tetapi malam tersebut masih menjadi rahasia Allah Sawt.

Artinya hanya Allah lah satu-satunya yang paling tahu malam ke berapa. Mengapa Allah merahasiakannya? Sebetulnya ada satu hikmah besar yang dapat kita pahami, yaitu agar kita senantiasa bersemangat di semua malam Ramadhan.

Bisa dibayangkan jika malam tersebut sudah di tag di tanggal tertentu, barangkali kaum muslimin hanya akan fokus pada malam tersebut saja dan mencukupkan all out pada malam itu saja.

padahal malam-malam lainnya juga memiliki keutamaan sebagaimana keutamaan menyeluruh pada bulan Ramadhan.

Manusia memang cenderung matematis. Perhatikan saja, begitu ada clue Lailatul Qadar terjadi di sepuluh terakhir pada malam-malam ganjil, biasanya masjid-masjid di kota penuh oleh para abid di malam-malam ganjil saja.

adapun di malam – malam genap, nampaknya masjid tak sepenuh malam ganjil. Melihat fenomena para pemburu Lailatul Qadar di malam ganjil saja, nampaknya kata-kata Umar bin Khattab sangat relevan. Beliau Radiyallahu ‘anhu mengatakan :

اِنّ لله كَتَم َ ستّةً فى ستّةٍ , كتم الرضا في طاعةٍ, وكتم الغضبَ فى معصيةٍ, و كتم ليلةَ القدرِ فى شهرِ رمضانَ, و كتم اَوْلياءَهُ فيما بين النّاس , و كتم الموتَ فى العُمُر , و كتم الصلاةَ الوسطَى فى الصلواتِ (عمر بن الخطاب)

Artinya : Sesungguhnya Allah merahasiakan enam hal di dalam enam perkara. 1] Allah merahasiakan ridha dalam ketaatan (hamba-Nya), 2] Allah merahasiakan murka dalam maksiat (hamba-Nya), 3] Allah merahasiakan lailatul qadar pada bulan Ramadhan, 4] Allah merahasiakan wali-Nya di antara manusia, 4] Allah merahasiakan kematian dalam usia, 5] dan Allah merahasiakan shalat wustho di antara shalat-shalat lainnya.

Dengan dirahasiakannya perkara-perkara di atas, semestinya membuat kita selalu memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik dari-Nya.

Ditulis Oleh : Andi Saepudin, S.Sy (Mahasiswa Pascasarjana Dirosah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Baca Juga :

Cara Menghitung 2 Qullah Air dengan Konversi ke Kg dan Liter

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.