Psikologi Perkembangan Anak dalam Kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkami al-Maulud

Psikologi Perkembangan Anak – Ibnu Qayyim memandang anak didik sebagai makhluk beradab dan berakhlak. Diantara adab-adab dan akhlak yang harus diperhatikan oleh anak adalah adab yang berhubungan dengan kepribadiannya, adab kepada ilmu yang sedang dicarinya, dan adab yang berhubungan dengan gurunya.

Anak yang baik adalah anak yang mempunyai tekad kuat untuk meraih kesempurnaan ilmu.

Kata kuncinya adalah hendaknya tidak melakukan kemaksiatan dan senantiasa menundukan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan karena yang demikian ini akan membukakan beberapa pintu ilmu, menjernihkan hati dan memudahkan cahaya ilmu akan menyinari hatinya.

Anak-anak perlu dibimbing kepada sikap kompetitif dalam mencari ilmu dan mulai dikenalkan secara bertahap beberapa sifat yang harus dihindari oleh anak-anak.

perkembangan yang paling baik adalah bagaimana anak-anak dibiasakan dengan pola-pola pergaulan yang bernilai islami dan mencerminkan akhlak yang luhur.

Anak-anak juga perlu dibiasakan menjauhi tempat yang menyebarkan kesia-siaan dan tempat-tempat yang membawa keburukan. Agar potensi dan pola pikirnya dapat terjaga dan terus berkembang dengan pesat.

Selanjutnya, kedisiplinan perlu ditanamkan pada anak sejak dini.

Hal ini dapat dimanifestasikan dalam kegiatan sehari-hari, seperti disiplin dalam waktu, etika makan, etika bicara, cara mengajukan pertanyaan yang baik dan secara umum dalam aspek-aspek yang terjadi dalam pergaulan.

Di samping itu, anak-anak juga perlu diarahkan pada pembentukan pola pikir yang sehat dan berpandangan luas.

Anak-anak nantinya senantiasa dapat mencari informasi lebih luas, selektif dan membuka wacana dari berbagai sumber.

Anak usia dini adalah usia penuh dengan rasa penasaran dan selalu mau bertanya.

Dalam pandangan Ibnu Qayyim anak-anak harus dibiarkan untuk banyak bertanya karena menurutnya pertanyaan memiliki nilai ilmiah yang besar, apalagi kalau pertanyaan itu ditindaklanjuti dengan sikap mendengarkan jawaban dan penjelasan yang baik.

Ia menganjurkan agar anak-anak dirangsang untuk dapat mengajukan pertanyaan dengan baik dan sopan jika mau mendengarkan jawaban guru secara seksama.

Dua sifat ini menjadi kunci penting dalam meningkatkan proses pembelajaran dan meraih ilmu secara maksimal sejak dini.

Ibnu Qayyim juga secara umum mengungkapkan pentingnya anak melakukan aktivitas menyertai guru dan berusaha mengambil faidah darinya karena ilmu itu adalah sunnah yang diikuti dan diambil dari lisan para ulama.

Tujuan pendidikan anak usia dini diantaranya adalah:

  1. Menanamkan cinta kepada Allah dan Rasul pada diri anak sejak usia dini sehingga pada saat dewasa telah melekat dan menjadi bagian penting dalam dirinya
  2. Meningkatkan kesehatan akal dengan menjauhkan setiap sesuatu yang menakutkan dan mengagetkan mereka karena hal itu berpengaruh pada akalnya
  3. Memperhatikan masalah akhlak dan membiasakan anak dengan kata-kata yang baik dan indah, terpuji, mencintai kebaikan, dan jera terhadap keburukan
  4. Menjaga serta mengembangkan kemampuan, kecerdasan dan jiwa anak sehingga menjadi sosok yang mempunyai jati diri dan kepribadian yang kokoh.

Pandangan di atas berimplikasi pada pentingnya muatan akidah dan akhlak dalam pendidikan anak usia dini.

Pandangan Ibnu Qayyim tentang metode pendidikan anak usia dini bermuara pada metode yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.

Metode ini diyakini dapat membuka hati manusia dan menghujamkan keyakinan kepada kebenaran.

Menurut Ibnu Qayyim diantara metode yang paling tepat dalam mendidik anak adalah melalui pembiasaan dan suri teladan (Bahron, Fathin, 2006).

Atas dasar ini, orang tua dapat melatih dan membiasakan anak-anak untuk dapat bangun di penghujung malam dan melakukan salat malam sebab dengan pembiasaan tersebut anak akan mendapat manfaat di kemudian hari, paling tidak, anak-anak akan menghargai bahwa waktu tersebut adalah waktu yang baik untuk urusan spiritualnya.

Selain itu, orang tua harus menjauhkan anaknya dari sifat suka mengambil milik orang lain atau sifat buruk lainnya, karena dikhawatirkan menjadi tabiat yang sulit untuk dibuang di masa dewasanya.

Dalam kesempatan lain, melatih anak dan membiasakannya berakhlak mulia akan menjadikan akhlaknya menjadi karakter.

Kesungguhan orang tua untuk menjauhkan anaknya dari akhlak tercela seperti bohong, harus lebih keras daripada usaha menjauhkan mereka dari racun yang mematikan.

karena kapan saja terbuka bagi mereka jalan berbuat bohong dan khianat sehingga hal itu akan merusak kebahagiaan dan ketenangan mereka dan menghalangi mereka dari seluruh kebaikan.

Anak tidak dibolehkan menuruti hawa nafsunya. Sehingga dengan mudah ia memenuhi perutnya dengan makanan dan minuman.

Memberi makan kepada anak sebaiknya dengan kadar secukupnya untuk mengisi perutnya yang kosong.

Agar pencernaannya bekerja dengan baik dan badannya sehat sehingga terbebas dari penyakit yang disebabkan adanya tumpukan sisa-sisa makan dalam tubuhnya.

Dalam hal berpakaian, maka orang tua memperhatikan pakaian anaknya secara selektif, baik dari bahan kain maupun bentuknya, sebagaimana mereka memperhatikan gizi dan makanannya karena ada sebagian pakaian yang bisa mengubah sifat dan karakter anak.

Bayi yang masih lemah harus selalu dilindungi dan dijauhkan dari setiap yang mengagetkan agar tidak mengganggu perkembangan akalnya.

Peran guru dan orang tualah yang dominan untuk dapat memberikan pola-pola perilaku dan tutur kata yang indah dan menyenangkan tetapi juga sedapat mungkin mendapat simulasi-simulasi yang dapat merangsang kecerdasan otak dan memunculkan kreativitas anak.

Di samping itu, anak perlu dijauhkan dari hal-hal yang menyebabnkan tertekannya emosi atau perasaan anak, seperti kerasnya lingkungan orang dewasa dalam bersikap dan bertutur kata.

Ditulis Oleh : Sari Yulianti S.Pd.I, M.Pd.I (cdt)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.